Meningkatkan motivasi peserta didik

Pembelajaran yang berhasil adalah pembelajaran yang mampu memotivasi peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Motivasi peserta didik dalam kegiatan pembelajaran adalah merupakan modal utama bagi peserta didik untuk memahami materi pembelajaran yang diajarkan oleh seorang guru. Tanpa adanya motivasi pada diri peserta didik, pembelajaran akan berlangsung sia-sia. Ilmu pengetahuan yang diajarkan oleh guru akan berlalu begitu saja dan tidak berbekas dalam memori peserta didik, jika memang peserta didik tidak termotivasi dalam kegiatan pembelajaran.

Banyak guru yang cenderung memaksakan peserta didik untuk memahami materi pembelajaran yaitu dengan sering-sering memberi hukuman kepada peserta didik yang tidak bersedia melaksanakan tugas ataupun yang tidak mengikuti kegiatan pembelajaran dengan sungguh-sungguh. Apakah hal tersebut akan membantu peserta didik untuk memahami materi pembelajaran yang diajarkan guru?. Seacara logika, sangat sulit untuk menyatakan iya, karena peserta didik “dipaksakan” untuk memahami materi pembelajaran. Sesuatu yang dipaksakan, hasilnya tidak akan maksimal.

Secara instant, memaksakan peserta didik untuk memahami materi pembelajaran mungkin akan membuat peserta didik dapat memahami materi pembelajaran yang diajarkan. Hal ini bisa dimaklumi karena peserta didik memaksakan diri untuk memahami materi pembelajaran karena takut akan dihukum. Namun pemahaman seperti itu tidak akan bertahan lama dalam memori peserta didik. Sehingga tidak mengherankan apabila dalam kegiatan ulangan umum dan ujian akhir, nilai peserta didik menjadi sangat rendah.

Membangkitkan motivasi peserta didik dalam kegiatan pembelajaran sangatlah mutlak untuk segera ditangani oleh seorang guru. Sebelum guru benar-benar yakin bahwa semua peserta didik yang ditanganinya termotivasi dalam kegiatan pembelajaran, sebaiknya guru tersebut jangan dulu melanjutkan untuk memulai inti pembelajaran. Karena apapun yang akan kita ajarkan akan menjadi sia-sia saja.

Hampir dalam setiap rencana pelaksanaan pembelajaran yang dibuat guru selalu memasukan langkah kegiatan memotivasi peserta didik pada langkah awal kegiatan pembelajaran pada setiap pertemuannya. Namun dalam pelaksanaan pembelajaran, banyak guru yang cenderung untuk mengabaikan masalah tersebut. Banyak guru yang “terpaksa” untuk melanjutkan kegiatan pembelajaran ke kegiatan inti pembelajaran, padahal guru tersebut sudah tahu bahwa peserta didik belum sepenuhnya termotivasi dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini disebabkan karena kurangnya kesabaran guru untuk membimbing dan menggembleng peserta didik, mereka cenderung mengabaikan beberapa peserta didik – bahkan sebagian besar – yang masih belum termotivasi dan cenderung untuk mengikuti irama sebagian kecil peserta didik yang memiliki motivasi tinggi dalam kegiatan pembelajaran.

Akibatnya, perbedaan antara sebagian kecil peserta didik yang memiliki kemajuan belajar yang lebih baik dengan sebagian besar peserta didik yang masih belum termotivasi menjadi sangat jauh. Kenyataan ini dapat terlihat dari hasil kegiatan ulangan yang menggambarkan perbedaan yang sangat mencolok.

Oleh karenanya demikian, maka sudah saatnya seorang guru untuk terus membina dirinya untuk meningkatkan kinerjanya sehingga mampu menyelenggarakan kegiatan pembelajaran yang memotivasi peserta didik untuk belajar. Ada banyak teori-teori belajar yang bisa menjadi landasan bagi seorang guru dalam memotivasi peserta didik. Juga ada banyak literatur yang bisa dibaca dan dijadikan contoh oleh seorang guru. Masalahnya tinggal berpulang pada guru itu sendiri, apakah seorang guru mau untuk bekerja keras atau tidak?, apakah seorang guru benar-benar menjadikan kegaiatan mengajar yang dilakoninya sehari-hari sebagai sebuah kegiatan profesional yang dilaksanakan dengan hati yang ikhlas atau tidak?.

Pertanyaan tersebut harus segera dijawab guru dengan segera meluangkan segenap waktu, tenaga dan pikirannya hanya untuk kemajuan belajar peserta didik. Sebagai manusia, hal ini terlalu berat bagi seorang guru. Hal ini dikarenakan seorang guru juga harus berusaha untuk menambah penghasilan keluarga melalui pekerjaan lain yang juga bisa menguras waktu, tenaga, dan pemikirannya. Mau tidak mau hal tersebut terpaksa dilakoni seorang guru karena penghasilannya sebagai seorang guru tidak dapat mencukupi kebutuhan keluarganya.

Jika sudah demikian, maka harapan besar pada seorang guru untuk menciptakan kegiatan pembelajaran yang mampu memotivasi peserta didik menjadi dilematis. Tentu saja harus ada yang bisa mengeliminir masalah tersebut dan harapanya masih bertumpu pada pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

 

About these ads

About labarasi

Guru Matematika

Posted on Desember 15, 2010, in Ilmu Pengetahuan, Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Back Link

  • Ikuti

    Get every new post delivered to your Inbox.

    Bergabunglah dengan 116 pengikut lainnya.

    %d blogger menyukai ini: