NILAI IDEALISME Vs NILAI KEMANUSIAN : Sebuah dilema dalam penilaian pendidikan di daerah

Secara keilmuan, kita semua telah memahami bahwa Ujian, Ulangan Umum, Ulangan Harian atau apapun bentuk penilaian lainnya adalah ditujukan untuk mengukur ketercapaian siswa menguasai materi yang telah diajarkan oleh guru ataupun dalam istilah Kurikulum sekarang adalah mengukur ketercapaian siswa terhadap kompetensi-kompetensi tertentu yang telah ditetapkan. Apapun hasil yang diperoleh siswa dalam sebuah kegiatan penilaian itu harus dapat diterima sebagai sebuah kenyataan bahwa sampai sedemikianlah siswa dapat menguasai kompetensi-kompetensi tersebut. Bagi siswa yang telah memenuhi syarat untuk dinyatakan berhasil, dapat melanjutkan ke kompetensi-kompetensi selanjutnya ataupun ke jejang yang lebih tinggi, sedangkan bagi siswa yang belum memenuhi syarat diwajibkan untuk mengikuti kegiatan perbaikan sampai mereka berhasil menguasai kompetensi tersebut.

Pengetahuan semacam ini sudah dimiliki oleh setiap guru bahkan lebih dari itu mereka bahkan dapat mengkaji berdasarkan ilmu yang diperolehnya di lembaga kependidikan, tingkat kesukaran soal yang diberikan, validitas serta reliabilitasnya. Sehingga mereka dapat melihat adanya soal-soal yang tidak layak dipakai untuk mengukur ketercapaian kompetensi-kompetensi tertentu.

Pengetahuan semacam ini dapat saya katakan sebagai idealismenya sebuah penilaian. Idealisme semacam ini sering berbenturan dengan kondisi di sekolah, terutama bagi kami di daerah. Sering kali para guru di daerah tidak dapat memanfaatkan fungsi penilaian sebagaiman yang disebutkan di atas secara maksimal, terutama bagi siswa yang belum memenuhi syarat untuk dapat dinyatakan lulus atau untuk dapat melanjutkan ke tingkat kelas selanjutnya.

Hal ini terjadi karena banyaknya siswa yang akan tidak lulus berdasarkan penguasaan kompetensi yang telah ditetapkan oleh pusat. Jika fungsi penilaian itu ditegakkan benar maka akan ada sekolah di daerah yang hanya dapat meluluskan 10% dari seluruh siswanya atau bahkan tidak ada sama sekali. Kenyataan seperti ini akan sangat sulit diterima oleh masyarakat sekolah, baik para pendidik yang ada di sekolah tersebut maupun masyarakat sekitar sekolah dan wali murid.

Akibat dari semua itu, tentu saja nilai kemanusiaan menjadi lebih dominan, maka jadilah kegiatan penilaian sebagai kegiatan yang bersifat sia-sia. Dalam Ujian misalnya, guru bahkan melakukan kegiatan yang sesungguhnya sangat menyayat hatinya sendiri, yaitu dengan membantu siswanya yang sedang Ujian. Demikian pula dalam memberikan nilai akhir sebagai pertimbangan kenaikan kelas, banyak faktor yang akan mempengaruhi kredibilitas ilmu penilaian yang dimiliki guru.

Inilah sekelumit kisah duka seorang guru di daerah. Butuh waktu panjang untuk mengubah semuanya, namun kenyataan ini perlu rasanya untuk segera diatasi.

About labarasi

Guru Matematika

Posted on Desember 24, 2010, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Back Link

  • %d blogger menyukai ini: