Benarkah Para Pejabat Kita Telah Bersumpah???

Pertanyaan itu saya munculkan sebagai bentuk kekecewaan terhadap tingkah pola para pejabat kita. Bagaimana mungkin seorang pejabat yang telah di ambil sumpahnya bisa melakukan kesewenang-wenangan, apa memang sumpah jabatan itu hanya sekedar seremoni belaka. Sangat disayangkan, jika para pejabat kita menganggap bahwa sumpah jabatan yang telah dilakukannya hanya sekedar kegiatan rutin bagi pejabat baru.

Semua sumpah jabatan di Indonesia memiliki redaksi yang kurang lebih sama, isinya senada yaitu berjanji atas Allah (bagi yang beragama Islam) untuk melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, sebagai contoh berikut saya kutipkan isi sumpah jabatan anggota MPR RI

” DEMI ALLAH “

SAYA BERSUMPAH

BAHWA SAYA AKAN MEMENUHI KEWAJIBAN SAYA SEBAGAI ANGGOTA MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT DENGAN SEBAIK-BAIKNYA DAN SEADIL- ADILNYA.
BAHWA SAYA AKAN MEMEGANG TEGUH PANCASILA DAN MENEGAKKAN UNDANG- UNDANG DASAR 1945 SERTA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG BERLAKU ;

BAHWA SAYA AKAN MENEGAKKAN  KEHIDUPAN DEMOKRASI SERTA BERBAKTI KEPADA BANGSA DAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA.

 

Dalam Islam, sumpah jabatan juga pernah terjadi, yaitu pada Masa Kekhalifahan. Sewaktu dilantik sebagai khalifah, Abu Bakar Siddik menyampaikan pidato kenegaraan yang sangat brilian. Dalam pidatonya, ia menegaskan dirinya bukanlah orang yang terbaik. Lantaran itu, ia meminta dukungan umat Islam sekiranya ia benar, dan mengharapkan kritik dan koreksi kalau ia salah atau bertindak serong.

Umar bin Khattab, pengganti Abu Bakar, dalam pengukuhannya sebagai khalifah, menyampaikan pidato yang lebih kurang sama. Antara lain, ia menegaskan komitmennya untuk berpegang teguh pada Alquran dan Hadis secara konsekuen dan konsisten. Lalu, katanya lagi, ”Kalau kalian melihat ada penyimpangan pada diriku, maka kalian harus meluruskannya.”

Mendengar pernyataan Umar itu, seorang penggembala yang ikut hadir dalam acara pelantikan, berdiri sambil mengacungkan pedangnya seraya berkata, ”Kalau kulihat ada penyimpangan dalam diri Tuan, maka aku akan luruskannya dengan pedangku ini!”

Umar, sang khalifah, tersenyum. Ia bersyukur kepada Allah SWT, karena merasa masih ada di antara rakyatnya yang memiliki iktikad baik untuk menegakkan kebenaran.

Kita dapat memetik pelajaran berharga dari teladan kedua tokoh Islam itu. Bagi keduanya, pelantikan pejabat (bay’at) bukanlah upacara tahunan atau seremonial belaka tanpa makna. Sumpah janji yang diucapkan pejabat bukan pula koor atau pernyataan yang hanya bersifat verbalistik. Sumpah janji dengan dan atas nama Tuhan itu pada hakikatnya adalah komtimen iman dan sekaligus kontrak sosial yang mengikat para pejabat untuk selalu berpihak kepada kebenaran, keadilan, dan kemaslahatan rakyat.

Dalam Islam, pelantikan dan sumpah pejabat itu dinamakan bay’at, berasal dari kata bay’ yang secara harfiah berarti jual-beli. Jual-beli (bay’) melibatkan dua pihak: satu pihak menyerahkan barang (mutsman) dan pihak yang lain menyerahkan uang (tsaman). Seperti halnya jual-beli (bay’), bay’at juga melibatkan dua pihak, yaitu pejabat (pemimpin) dan rakyat (yang dipimpin), yang keduanya harus pula saling berbagi dan memberi.

Ibn Manzhur, pengarang Lisan al-‘Arab, memahami bay’at sebagai sebuah transaksi (mu’aqadah) dan kontrak sosial (mu’ahadah) yang mengikat kedua belah pihak: pemimpin dan rakyat yang dipimpin. Dengan bay’at, masing-masing pihak seolah-olah telah menjual atau membeli dari pihak lain (mubaya’ah). Pemimpin menuntut kepatuhan (tha’at), tetapi rakyat menuntut keadilan, rasa aman, dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

Jadi, dalam Islam bay’at itu mengandung empat makna. Pertama, tekad untuk memegang teguh Alquran dan Sunnah. Kedua, tekad untuk bekerja dan menjalankan roda kepemimpinan sesuai dengan petunjuk keduanya. Ketiga, tekad untuk selalu berbuat adil dan mementingkan kemaslahatan umat. Keempat, tekad untuk bersikap terbuka dan bersedia menerima saran dan kritik konstruktif dari rakyat.

Ini berati, bay’at memiliki implikasi teologis dan sosiologis sekaligus. Para pejabat yang menjalani bay’at tentu harus tahu dan memahami implikasi dari bay’at itu. Namun apakah pejabat kita telah benar-benar menjalani bay’at itu? Wallahu alam bissawat.

Iklan

About labarasi

Guru Matematika

Posted on Januari 4, 2011, in Lain-lain and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. hooo…itu sudah klasik boss,yang bersumpah hny mulutnya sj sdangkan isi hatinya ????? Allah dan si pejabat yg bersumpah itu yang tahu… tapi…. masih ada pejabat yang taat pada sumpahnya koq…
    Betul…Betul…Betul????

  2. Sumpah tinggallah sumpah, kesempatan emas untuk meraih banyak uang tetap menjadi tujuan yg menggiurkan…
    Buta mata kepala terlebih mata hati karna uang, atas nama Allah hanya terucap sebatas bibir..
    Miris, tapi kita bisa buat apa?

  3. ada pejabat yang punya sumpah ekstra….yakni rela mati ditabrak mobil, he…he…he…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

  • Back Link

  • Iklan
    %d blogger menyukai ini: