MENSIKAPI PUJIAN

Seorang raja bertanya kepada istrinya, “Bila dibandingkan Raja Jamal yang akan datang bertamu, siapa yang lebih tampan, aku atau dia?”. Sang permaisuri langsung menjawab, ”Sekalipun dia terkenal dengan ketampanannya, namun engkau lebih tampan”. Raja sangat senang mendengar jawaban istrinya.

Kepada para menteri, raja yang bernama Arif ini menanyakan hal yang sama. “Jelas paduka lebih tampan”, puji para menteri.

 Untuk lebih meyakinkan, saat bertemu dengan para pegawai hingga prajurit ia selalu menanyakan pertanyaan yang sama. Walau jawaban mereka berbeda, namun tak satupun yang tidak memuji ketampanannya.

Semua jawaban ini menggembirakan hatinya, namun di hati kecil, ia menyangsikan kejujuran jawaban mereka semua. Apa pasal? Raja Jamal sangat tersohor dengan ketampanannya.

 Keraguan atas jawaban mereka semua mulia terkuak ketika Raja Jamal datang. Saat jamuan santap malam, ternyata seluruh yang hadir mengagumi ketampanan tamu mereka. Raja Arif menyaksikan sendiri bagaimana para menteri mengagumi ketampanan Raja Jamal. Bahkan sang permaisuri termasuk mereka yang menatap dengan penuh kekaguman.

 Kejadian ini membuat Raja Arif merenungkan tentang “sandiwara” yang selama ini telah diperankan oleh semua orang. Kenyataan membuktikan, bahwa dirinya kalah tampan dengan Raja Jamal, tetapi mengapa semua orang mengatakan dirinya lebih tampan?

 Dari perenungan ini ia menyimpulkan, wajar jika sang permaisuri mengatakan dirinya lebih tampan karena ia adalah suaminya. Untuk para menteri, memuji dengan motivasi mereka masing-masing. Sedang para prajurit, pengawal dan lain-lain, karena rasa takut, hormat, pekewuh dan sejenisnya.

 Dan memang, pada umumnya, makin tinggi kedudukan seseorang, akan semakin sedikit orang yang berani mengutarakan kekurangannya. Hal ini karena faktor segan, pekewuh, takut digeser kedudukannya, takut ditindak, agar mendapat tender, mencari muka dan lain-lain.

 Yang aneh tapi nyata, manusia menyenangi pujian. Padahal, pada dasarnya hal tersebut lebih banyak rugiannya ketimbang manfaat. Saat seseorang memuji-muji kawannya di hadapan Nabi SAW, beliau berkata kepadanya, “Waspadalah kamu, sesungguhnya kamu telah memenggal lehernya, sesungguhnya kamu telah memenggal lehernya (diucapkan berulang-ulang)”.

Islam membolehkan seseorang untuk memuji, selama pujian tersebut tidak berlebihan dan sesuai dengan kenyataan. Tetapi terhadap tukang puji yang tidak sesuai dengan kenyataan, Rasulullah SAW bersabda, “. Taburkanlah pasir ke wajah orang-orang yang suka memuji dan menyanjung-nyanjung.” Peringatan keras dari Nabi ini, karena di dalam pujian terkandung berbagai bahaya baik bagi yang dipuji maupun yang memuji.

 Bagi seseorang yang memuji secara berlebihan, sangat mungkin akan ditambah dengan bumbu kebohongan. Ia juga akan menyelipkan berbagai kalimat yang mengandung riya’, kesombongan yang kesemuanya agar tercapai apa yang ia maksudkan. Dan bila seseorang yang dipuji termasuk mereka yang fasiq (orang yang terus-menerus melakukan dosa, kedhaliman), Rasulullah SAW bersabda, “Allah murka jika orang fasiq dipuji”

 Sedang bagi orang yang dipuji, di balik kalimat manis yang ia dengar tersimpan racun yang mampu merusak amal bahkan jiwanya. Dengan pujian, sangat mungkin muncul rasa sombong, ujub (bangga terhadap amal sendiri), dan lain-lain hingga lupa dengan kekurangan yang ada. Nabi SAW bersabda, “Menyukai sanjungan dan pujian membuat orang buta dan tuli.”.

 Untuk itu kita tak perlu banyak memuji atau minta dipuji, apalagi memuji diri sendiri. Bila memang pujian yang kita terima sesuai dengan adanya, maka kembalikanlah kepada yang memberi nikmat, yakni Allah. Bila tidak sesuai dengan kenyataan, maka malulah kepada diri sendiri dan kepada Allah.

 Dan Bila kita dipuji, ada baiknya berdoa, seperti doa kaum shalihin, “Ya Allah, jadikanlah kami lebih baik dari apa yang mereka sangka. Jangan Kau siksa kami karena apa yang mereka ucapkan dan ampunilah kami dari apa yang mereka tidak tahu”. [ Sumber : Harian Umum Solo Pos ]

Iklan

About labarasi

Guru Matematika

Posted on April 26, 2011, in Islam and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. bersyukur atas apa yang kau miliki sekarang…….setiap manusia sudah dibekali kelebihan dan kekurangan!!soo keep positif thinking

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

  • Back Link

  • Iklan
    %d blogger menyukai ini: