Pentas Arogansi

KONGRES PSSI gagal menghasilkan pengurus baru. Ketua Komite Normalisasi Agum Gumelar menutup kongres di tengah jalan dengan alasan situasi tidak kondusif.

Kongres yang semestinya menjadi awal kebangkitan prestasi justru menjadi pentas arogansi.

Padahal, kongres kali ini bukan sembarang kongres. Ia instruksi langsung FIFA lewat Komite Normalisasi yang diketuai Agum Gumelar, menyusul kekacauan kongres di Pekanbaru, 26 Maret lalu. Jelas, tugas Komite Normalisasi ialah menormalkan persepakbolaan nasional yang karut-marut setelah delapan tahun dikelola Nurdin Halid dan sekutunya.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Kendati secara formal rezim Nurdin sudah tumbang, kekacauan tetap saja menjadi panglima. Perang kepentingan antara kubu status quo dan kelompok reformis terus berkobar, bahkan Komite Normalisasi ikut dalam pusaran kekisruhan.

Sebagai Ketua Komite Normalisasi, Agum begitu tunduk pada sikap FIFA.

Keputusan FIFA melarang Jenderal TNI George Toisutta dan Arifin Panigoro sebagai calon Ketua Umum dan Wakil Ketua Umum PSSI meski tanpa alasan yang gamblang dia patuhi seutuhnya. Agum bahkan tak menganggap putusan Komite Banding yang mengizinkan Toisutta dan Panigoro dicalonkan.

Padahal, itulah biang persoalan selama ini. Memang, di depan Kongres PSSI, utusan FIFA Thierry Regenass menjelaskan Panigoro masuk daftar hitam karena ia penggagas kompetisi ilegal, yaitu Liga Primer Indonesia. Namun, dalam diri Toisutta tak ada secuil pun kesalahan.

Toisutta bukanlah kriminalis atau bekas kriminalis seperti halnya Nurdin yang juga masuk black list FIFA. Dari sudut Statuta dan Standard Electoral Code FIFA, Toisutta bersih.

Memosisikan seseorang yang tak bersalah sebagai pesakitan adalah kejahatan. Ironisnya, FIFA sendiri yang melakukan kejahatan itu dan Agum larut dalam kekejaman tersebut.

Karena itu, masuk akal jika kubu Toisutta-Panigoro yang tergabung dalam kelompok 78 tetap ngotot. Namun, kita juga menyesalkan cara mereka bertarung di kongres. Mereka mengintimidasi dan tidak memedulikan etika dan sopan santun. Arogansi mereka bahkan sampai menyebut Agum bodoh, sangat tidak patut dipertontonkan pengurus olahraga yang seharusnya menjunjung tinggi sportivitas.

Komite Normalisasi yang memimpin sidang juga demikian. Penolakan Agum mengakomodasi keinginan peserta untuk dilakukan voting terbuka agar Komite Banding memaparkan temuan mereka di depan kongres menyisakan tanda tanya besar. Apa apa? Bukankah dalam Statuta PSSI jelas diatur bahwa voting yang tidak menyangkut nama orang harus dilakukan terbuka?

Kongres PSSI yang menghabiskan uang rakyat Rp2 miliar telah gagal total. Alih-alih kongres melahirkan pemimpin baru, sanksi dari FIFA justru menunggu. Kita mendesak pemerintah secepatnya turun tangan, memediasi pihak-pihak yang bertikai untuk mencari win-win solution.

Dalam usia yang sudah renta, 81 tahun, PSSI terlalu rapuh untuk terus diajak berpacu dengan konflik. Pecinta sepak bola negeri ini juga sudah letih menyaksikan melodrama penuh intrik kepentingan di kalangan pengurus PSSI.

About labarasi

Guru Matematika

Posted on Mei 29, 2011, in Lain-lain and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Back Link

  • %d blogger menyukai ini: