Perempuan, Berjuang Menghadapi Kepungan Rentenir

Bank rente alias bank riba atau rentenir memang di mana-mana. Tapi, rentenir kecil lebih mengerikan lagi. Mereka menjemput mangsa di pintu-pintu rumah, terutama kepada para perempuan yang tengah resah, ke mana harus mencari pinjaman.

Mereka menjemput, melayani dengan senyum, lalu menjerembabkan para perempuan itu dalam kubangan penuh lintah ketika gilirannya tiba.

Darah ekonomi diri dan keluargapun disedot secara bengis, nyaris tanpa perlawanan. Sungguh, venomena ini terjadi di hampir semua daerah.

Novi Nariana (33), satu dari sekian orang yang akhirnya terpanggil. Ia mengaku ngeri menyaksikan korban rentenir terus berjatuhan.

Ia juga ngeri melihat realitas para perempuan di sekitarnya, tak mampu menghindari rayuan bank keliling yang akhirnya menjeratnya.

Para ibu-ibu di Desa Ciherang Pondok, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor termasuk yang tak bisa lepas dari godaan rentenir alias lintah darat ini.

“Rentenir itu banyak, bunga yang  mereka terapkan sangat mencekik,” ungkap Novi prihatin.

Namun, yang lebih membuatnya prihatin, dampak negatif yang berpengaruh pada kehidupan ekonomi dan keluarga.

Bayangkan, orang pinjam Rp 100 ribu, Novi memberi contoh, peminjam cuma menerima 80 ribu. Si peminjam harus mengembalikan uang sebesar Rp 130 ribu.

Ketika seorang perempuan yang terlibat pinjaman uang pada rentenir tak mampu melunasi utangnya, ia bisa menjual barang-barang yang dimilikinya. Padahal, barang-barang itu aset keluarga.

Yang membuat Novi kian ngeri dengan dampak rentenir adalah tergadainya aset keluarga yang paling berharga. Yakni, masa depan anak dan keutuhan keluarga.

“Bener, saya melihat banyak anak-anak putus sekolah gara-gara ibunya terjebak peminjaman uang pada bank gelap. Ada juga keluarga yang menemukan jalan perceraian karena para ibu ini menempuh jalur rentenir,” cerita Novi.

Mengapa bisa demikian parah? Novi mengutarakan rahasianya, “Tak sedikit ibu-ibu itu meminjam pada rentenir tanpa seizin suaminya, padahal suami yang bekerja dan ikut menanggung pengembalian. Utang tak seberapa, mengembalikannya habis-habisan.”

Tak hanya di Caringin, di manapun tempat ketika orang sulit cari pinjaman, di sanalah rentenir tumbuh subur.

Warga miskin tak banyak pilihan. Ingin tambahan modal usaha, tak banyak lembaga keuangan yang mau menyentuh mereka. Orang berduit juga tak gampang memberi pinjaman tanpa pamrih.

Di tengah-tengah tanah gersang akan kepedulian inilah Novi berdiri tegak. Ia memendam risau sekaligus mencoba berbuat sesuatu untuk memangkas ulah jahat para rentenir ini.

Kerisauan yang selama ini terpendam, seakan menemukan jawaban. Warga Ciherang Pondok mempercayakan Novi menjadi lokomotif warga yang tergabung dalam wadah BIRU MANDIRI (Bina Wirausaha Mandiri).

Baru beberapa bulan wadah ini dibentuk, lebih dari 200 warga dari Desa Ciherang Pondok dan Desa Ciderum bergabung di dalamnya. Yang spesial dari wadah ini adalah 90% anggotanya adalah perempuan. Wadah ini kemudian membentuk lembaga berbadan hukum koperasi.

Anggota koperasi adalah ibu rumah tangga yang memiliki usaha kecil-kecilan yang beragam. Banyak dari mereka membuka usaha dagang, termasuk makanan, warung, dan kerajinan.

Bergabungnya banyak warga pada koperasi karena mulai tumbuhnya kesadaran menghindari rente. Novi dan pendamping pemberdayaan masyarakat dari Masyarakat Mandiri mendorong warga merintis lembaga koperasi memiliki tujuan untuk mampu membiayai usaha warga dengan menghindari riba.

Koperasi dengan sistem syariah, menurut Novi dan teman-temannya bisa memberi jawaban akan kelemahan rentenir yang sebenarnya disadari ‘nasabah’ tapi sulit menghindarinya.

Menurut Novi, para rentenir mampu menarik minat nasabah karena mereka menang dalam ‘ketekunan’. Bank keliling tekun berkeliling dari kampung ke kampung, tiap hari.

Mengapa rentenir harus dihindari? Menurut Novi, rentenir tidak memiliki toleransi dalam soal penagihan utang, sering tak mengenal kemanusiaan, dan suka ambil barang sebagai sitaan.

Nah, apa yang dilakukan dengan koperasi pimpinan Novi? “Kita mulai dari sebelum ada koperasi, ada kebiasaan infak untuk mengembangkan semangat kepeduliaan. Dalam pembiayaan, kita memiliki toleransi, ada kebijakan, karena kondisi perkembangan usaha mitra atau anggota berbeda-beda,” ujar Novi.

Rekrutmen anggota Koperasi Biru Mandiri terbilang unik. Koperasi membina Posyandu yang tentu saja beranggotakan ibu-ibu. Posyandu ini disamakan dengan lembaga Induk, lembaga yang menaungi kelompok-kelompok warga di bawah koperasi.

Setelah dibina, ibu-ibu anggota Posyandu bisa menjadi anggota koperasi. Praktis, mereka bisa memperoleh pembiayaan usaha secara mudah dari koperasi.

Program yang bekerjasama dengan PT Tirta Investama ini telah dijalankan di dua desa. Di luar koperasi, sudah mulai tumbuh kelompok-kelompok holtikultura.

Kelompok ini memiliki usaha pembibitan tanaman, di antaranya pembibitan albasia.  Ke depan, koperasi Biru Mandiri juga akan menaungi kelompok holtikultura selain beberapa kelompok peternakan domba.

Novi berharap, ke depan koperasi syariah ini bisa menjangkau desa-desa lain di luar Ciherang Pondok dan Ciderum. “Kami ingin, masyarakat bebas dari rentenir,” tegas Novi.

Keyakinan Novi patut didukung. Namun, ia akan menghadapi berbagai tantangan yang tak remeh. Karena model rentenir memang sudah mendarah daging.

Akankah wadah yang dirintis Novi mampu mengubah keadaan? Kitalah yang harus men-support. Jangan biarkan benih kebaikan ini layu sebelum berkembang. (Hery D Kurniawan/Masyarakat Mandiri)

sumber : sabili.co.id

Iklan

About labarasi

Guru Matematika

Posted on Juni 2, 2011, in Islam and tagged , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Susilo bambang yudoyono

    Salah satu cara membasmi rentenir ya… ganti menteri perekonomian dan musnahkan yang gak mau ACTION.

  2. sejauh ini.. praktek rentenir/lintah darat makin merajalela.. dan juga udah bnyak korban2 akibat ulah rentenir.. namun blum ada cara yg lebih efektif tuk memusnahkan rentenir, karna memang praktek rentenir harus cepat di musnahkan di muka bumi ini,.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Back Link

  • %d blogger menyukai ini: