Dampak Sinyal Ponsel terhadap Keselamatan Udara

Peraturan tentang pelarangan menghidupkan ponsel dan barang elektromagnetik berjenis Portable Elctronic Devices (PED) di dalam kabin pesawat sudah lama diberitahukan. Pasalnya, ini dapat mengakibatkan interferensi terhadap komponen peralatan dan sistem pada pesawat melalui radiasi elektronik yang dipancarkan dari ponsel yang aktif. Tetapi kenyataannya, masih banyak yang melanggarnya. Ada satu hingga empat ponsel dalam keadaan aktif dalam setiap penerbangan, kata Bill Strauss, seorang penulis Unsafe at Any Airspeed: Cell Phones and Other Electronics Are More of a Risk Than You Think, dikutip dari Wireless Week.

Federal Aviation Administration (FAA) pun telah mengeluarkan maklumat berupa larangan untuk mengaktifkan ponsel di dalam pesawat terbang, dan apabila masih saja dilakukan, maka pelakunya bakal dikenai hukuman dengan pasal membahayakan keselamatan umum. (Tahun lalu FAA mengeluarkan pengumuman akan mencabut larangan mengaktifkan ponsel selama penerbangan, yang akan diberlakukan tahun ini, namun reaksi keras langsung muncul menentang rencana tersebut).

Penelitian tentang pengaruh radiasi yang dipancarkan ponsel pun terus dilakukan. Misalnya saja seperti yang dilakukan Carnegie Mellon University, awal Maret tahun lalu. Dari studi itu diperoleh data bahwa radiasi dari sebuah ponsel sangat berpengaruh terhadap perlalatan penerbangan yang sedang aktif. Menyalakan ponsel saat pesawat take off maupun landing sangat dilarang.

Penumpang pesawat sendiri mempunyai kebiasaan aneh. Begitu roda-roda pesawat menyentuh landasan, langsung suara ringtone SMS saling bersahut-sahutan. Padahal, saat landing merupakan saat yang penuh dengan petunjuk (signaling) dari pihak airport kepada pilot. Take-off dan landing adalah saat dimana sistem pesawat bekerja full, mulai dari pengaturan landing gear, mesin, sayap, rem, sistem intrumen pendaratan, radar, hingga sistem untuk mencegah tabrakan dengan pesawat lain. Sehingga, dibutuhkan konsentrasi penuh atas peralatan tersebut karena tak ada lagi tidak waktu untuk menanggulangi apabila ada masalah yang timbul.

Jadi, larangan mengaktifkan ponsel selama berada di dalam pesawat jelas sangat beralasan. Pasalnya, ketika ponsel diaktifkan, ia akan mengirim dan menerima sinyal gelombang radio, juga meradiasikan daya listrik untuk menjangkau BTS (base transceiver station) yang berjarak 30 hingga 35 kilometer (30.000 kaki). Pada ketinggian ini, sebuah ponsel bisa menjangkau ratusan BTS yang berada di bawahnya. (Di Jakarta diperkirakan ada sekitar 600 BTS). Sinyal dari pesawat ponsel itu dapat berinterferensi dengan sinyal frekuensi komunikasi pesawat, sehingga mengganggu komunikasi yang mestinya terjalin baik antara pesawat dengan sistem pemantau navigasi penerbangan di darat dan dengan sesama pesawat lain yang kemungkinan tengah terbang berdekatan.

Keadaan Standby

Civil Aviation Authority (CAA) mengungkapkan data bahwa ponsel yang berjalan pada frekuensi kira-kira 415 MHz, 900 Mhz, atau 1800 Mhz kebanyakan menggunakan modulasi secara digital, tetapi tipe analognya masih tetap digunakan. Maksimum sebuah ponsel memancarkan power mulai dari 1 hingga 2 watt. Pada kenyataannya, power yang dipancarkan terutama pada saat melakukan kontrol ke BTS itu berubah-ubah, mulai dari 20mW hingga maksimum, tergantung jenis ponsel dan kualitas link antara ponsel dan network (BTS). Jadi, meski ponsel kita dalam keadaan standby, tetap saja ia melakukan koneksi dan registrasi ke network serta memelihara kontak dengan BTS.

Pada saat pesawat masih berada di airport, koneksi ke BTS memang relatif tidak begitu kuat, cukup untuk memaintain sinyal, sehingga terjadinya interferensi masih tergolong rendah. Tetapi, apabila pesawat terus menjauh dari BTS, maka output power dari ponsel akan bertambah, sehingga terjadinya interferensi akan semakin naik ke titik maksimum. Memang, kenyataannya orang yang sudah pernah naik pesawat itu pasti sudah aware tentang kondisi ini. Tetapi, sebagian mereka masih tidak mengindahkan larangan ini.

Pertanyaannya, kenapa masih banyak penumpang yang tak mengindahkan larangan mengaktifkan ponsel saat berada di dalam pesawat? Padahal, pihak maskapai penerbangan tak pernah lupa untuk mengumumkan larangan ini kepada para penumpang. Para awak pesawat dan pramugari pun tak henti-hentinya memberikan pengumuman, Please make a final check that your mobile phone and other electronic devices are switched off before fastening your seatbelt…

Jadi, apa yang harus kita lakukan sebagai pengguna jasa transportasi udara? Tak ada salahnya kita bersabar selama berada di dalam pesawat. Tak usah memaksakan diri menyalakan ponsel. Utamakanlah keselamatan orang banyak. Kita sendiri pun akan ikut kena dampaknya bila melalaikan perintah tersebut. Tentu, kita tidak mau disebut sebagai pelanggar hukum sekaligus tidak tahu tata karma, bukan?

Halo, Saya Masih Mengudara

Mulai Januari 2007, maskapai penerbangan Emirates Airlines membolehkan penumpangnya berkomunikasi menggunakan ponsel. Untuk mengimplementasikan hal ini, pihak Emirates merogoh kocek hingga US$ 27 juta. Sedangkan untuk penyediaan peralatan untuk Boeing 777, maskapai ini bekerja sama dengan AeroMobile.

Penumpang dapat menggunakan ponselnya saat mengudara di waktu-waktu tertentu, di saat ketinggian cruise altitude, sambungan telepon yang dapat digunakan pun dalam waktu tertentu, dan juga dibatasi pada maksimal lima hingga enam sambungan telepon.

Untuk pentarifan, penelepon dikenakan biaya seperti melakukan roaming internasional. Ke depannya, maskapai ini pun akan menambahkan layanan, selain voice dan SMS, juga GPRS dan internet. Janji ini akan dibuktikan setelah sistem komunikasi ditingkatkan dan pada akhir 2007. Jika AeroMobile bekerja sama dengan Emirates Airlines, bagaimana dengan kita?

Hampir Celaka Akibat Perangkat Elektronik

Di bawah ini beberapa contoh kejadian yang berhubungan dengan interferensi alat Portable Electronic Devices yang menyebabkan gangguan sistem komunikasi elektronik dalam pesawat. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan ponsel yang menimbulkan antara lain gangguan pada VOR (VHF Omnidirectional Receiver), indikator CDI (Course Deviation Indicator), dan indikator HSI (Horizontal Situation Indicator) sehingga mengakibatkan melencengnya arah terbang. Gangguan atas sistem navigasi, sistem kemudi otomatis, indikator arah kompas, dan indikator bahan bakar pesawat.

Menurut sumber ASRS (Aviation Safety Reporting System), terjadi beberapa kasus insiden dan kecelakaan pesawat sejak tahun 1998 yang disebabkan oleh aktifnya sinyal ponsel:

1. Pesawat Crossair dengan nomor penerbangan LX-498 jatuh sesaat setelah lepas landas dari bandara Zurich, Swiss. Penyelidik menemukan bukti adanya gangguan sinyal ponsel terhadap sistem kemudi pesawat. Sepuluh penumpangnya tewas.

2. Sebuah pesawat Slovenia Air dalam penerbangan menuju Sarajevo melakukan pendaratan darurat karena sistem alarm darurat terus-terusan menyala. Ternyata, sebuah ponsel di kopor dalam bagasi lupa dimatikan oleh pemiliknya dan menyebabkan gangguan terhadap sistem navigasi..

3. Boeing 747 Qantas tiba-tiba miring ke satu sisi dan mendaki lagi dengan tiba-tiba setinggi 700 kaki. Insiden ini terjadi karena tiga penumpang pesawat belum mematikan komputer, CD player, dan electronic game-nya ketika pesawat tengah melakukan final approaching untuk mendarat di bandara Heathrow, London.

sumber :fupei.com

Iklan

About labarasi

Guru Matematika

Posted on Juni 4, 2011, in kesehatan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Back Link

  • %d blogger menyukai ini: