Model Pembacaan Kontemporer

Model Pembacaan Kontemporer [Qira’ah Mu’ashirah]

Hermeneutika, kritik, dan dekonstruksi tampaknya merupakan konsep kunci dari pemikiran kontemporer saat ini, bahkan pemikiran filsafat pada umumya. Posisinya sebagai model pembacaan meluas sehingga menjadi semacam mode pemikiran (mode of thought). Disebut sebagai mode pemikiran karena ketiganya telah menjadi wilayah perenungan tersendiri yang berbeda dengan trend dan mode pemikiran sebelumnya, pemikiran klasik dan modern, sehingga terus bermunculan konsep-konsep baru.Dinamikanya pada wilayah mode pemikiran ini sudah tentu dapat memperkaya ketiganya sebagai model pembacaan.

Sebagai model pembacaan, hermeneutika, kritik, dan dekonstruksi memang tidak sama persis, bahkan perbedaan itu juga tampak pada asumsi atas “bahan” bacaannya. Tetapi ketiganya memiliki maksud yang –kurang-lebih—sama, yaitu untuk mendapatkan makna lebih dari sekedar yang tampak pada bacaan, mengambil yang tersembunyi, yang selama ini tak terbaca, bahkan yang seakan tak mungkin terbaca. Sejalan dengan penekananya pada makna, ketiganya disibukkan pada pencarian, penelusuran atau penemuan makna dari teks atau wacana, serta proses produksinya, bukan pada realitas yang menjadi objek “pembicaraan” teks atau wacana. Yang terakhir ini juga ciri paling mencolok yang membedakannya dengan model pembacaan tradisional pada umumnya.

Sebagai model pembacaan kontemporer, kehadiran hermeneutika, kritik, dan dekonstruksi sebenarnya merupakan reaksi dan kritik atas model pembacaan tradisional dan konvensional yang mempercayai kekuatan metodologi dan sistem secara rigit. Artinya, hanya dengan metodologi dan sistem yang tepat, pembaca dapat mengambil makna dengan tepat pula. Karena, bacaan, teks, wacana, dan pengetahua pada umumnya, diandaikan terbangun hanya dengan metodologi dan sistem yang rigit itu. Pandangan demikian memang cukup populer dan dominan pada pemikiran modern dengan patok-patok standar ilmiah (scientific) dan pemikiran klasik dengan kekuatan otoritasnya. Dengan begitu, sisi-sisi personal dan psikis pembaca, kondisi sosio-kultural dan interest pembaca, dan kekuatan hegemonik ideologis-politis pembaca, tidak mendapat dukungan metodologis, sehingga bukan saja perannya diabaikan, tetapi bahkan peran itu dianggap tidak ada sama sekali.

Hermeneutika bukan hanya menerima peran sisi personal dan sosial pembaca, tetapi ia bahkan menyediakan dukungan metodologis untuk aspek personal dan sosial itu sebagai bagian tak terpisahkan dalam proses pembacaan (dan produksi pegetahuan). Sementara “kritik”, lebih jauh lagi, ia memasuki basis ideologis-politis dan berbagai interest di balik produksi teks dan wacana. Sedang dekonstruksi (bukan destruksi) melakukan pembongkaran terhadap pemikiran (apapun), yang selama ini diterima begitu saja, dengan emosional, secara tradisional, tanpa pertimbangan, bahkan tanpa kesadaran, sehingga semuanya tampak seperti given, natural dan baku. Dengan begitu, dekonstruksi terlibat dalam upaya membangunkan kesadaran, dengan melakukan penelusuran terhadap geneologi pembentukan wacana, dan menemukan basis-basis kesadaran baru.

Ketiganya berangkat dari asumsi bahwa setiap ide, pemikiran, nalar, atau akal adalah produk budaya yang historis, karenanya tampil dalam bahasa budaya. Begitu pula budaya, ia ada hanya karena pertemuan antara pemikiran, ide, atau nalar dengan bahasa budaya. Dengan demikian, maka bahasa budaya pasti terlahir dari dialektika antara pemikiran dengan budaya tertentu. Artinya setiap bahasa mengandung pemikiran dan budaya sekaligus. Maka membaca bahasa berarti menemukan ide, pemikiran, atau nalar dan sekaligus menemukan budaya yang memproduksi ide atau nalar itu. Ketiga hal inilah medan garapan hermeneutika, kritik dan dekonstruksi. Hanya saja hermeneutika lebih tertarik dengan teks, karena sifatnya yang interpretable, sementara kritik lebih memusatkan perhatiannya pada nalar atau pemikiran sebagai wilayah yang tidak pernah bisa lepas dari bahasa dan budaya, sedangkan dekonstruksi mengambil wacana sebagai wilayah pembahasannya, seiring dengan kerangka kerjanya yang terlibat upaya menelusuri proses pembentukan (geneologi) nalar itu. Maka kata kunci ketiganya adalah: bahasa, nalar, dan budaya. Itulah sebabnya, pembahasan hermeneutika, kritik, dan dekonstruksi, menjadi pembahasan menarik pada ilmu bahasa (linguistik), filsafat, dan ilmu budaya sekaligus, bahkan linguistik dan filsafat menjadi bagian dari ilmu budaya.

Munculnya model pembacaan ini sudah tentu menarik banyak kalangan untuk mengungkap kompleksitas budaya dan problem-problem kemanusiaan pada umumnya, yang selama belum tersedia instrumen untuk itu. Berbagai eksperimen dilakukan, tidak hanya dengan menjajaki kemungkinan lahirnya perspektif baru, tetapi juga memperluas willayah kajiannya. Beberapa pemikir Islam kontemporer, umumnya menerapkannya untuk pembacaan turats atau khasanah intelektual Islam klasik, bahkan ada pula yang coba menerapkannya ke pembacaan terhadap kitab suci. Yang terakhir ini berangkat dari asumsi bahwa al-Qur’an itu berbahasa Arab. Sebagai bahasa, tentu mengandung makna (ide, gagasan). Tak ada bahasa yang mengandung makna, jika tidak dilahirkan dari budaya. Maka kemudian disimpulkan bahwa al-Qur’an adalah produk budaya (muntaj tsaqafi). Dari sinilah lahir kajian seputar konsep teks (nass), konsep tanzil, konsep qira’ah, “asbab al-nuzul”, dll., yang semuanya dikembangkan untuk membuktikan bahwa al-Qur’an juga teks budaya. Berbagai upaya itu sudah tentu mengalami banyak kesulitan, tidak hanya karena berangkat dari asumsi yang lain (yang mana, untuk ini hanya menjadi kajian elit, karena sifatnya yang filosofis dan ushuly), tetapi juga kesulitan pada wilayah metodis, yang terkait soal logika dan metodologi dalam beristinbath.

Sama dengan pembacaan tradisional, pembacaan kontemporer mengakui bahwa suatu teks atau wacana dapat saja kaya makna atau dapat pula miskin makna, namun berbeda dengan pembacaan tradisional yang mengandaikan intensitas (kaya-miskinnya) makna itu berada dalam teks, sedang dalam pembacaan kontemporer, kaya atau miskinnya makna itu sangat ditentukan oleh kaya-miskinnya perspektif si pembaca. Artinya, pembaca hanya akan dapat mengambil makna sesuai dengan kapasitas dan kualitas pembacaannya. Suatu teks atau tulisan hanya berupa kumpulan bunyi-bunyian atau kumpulan kata-kata, jika pembaca tidak memiliki sensitivitas dan taste apapun. Sensitivitas dan taste pembaca menjadi sedemikian penting untuk membuat teks menjadi lebih hidup. Singkatnya, teks hanya terbaca bagi orang-orang yang bisa baca. Sebesar apa sensitivitas dan taste pembaca, sebesar itu pula makna yang didapat.

Persoalannya, bagaimana menumbuhkan sensitivitas dan taste pembaca yang dengan itu, pembaca akan memiliki kekayaan perspektif? Di sinilah ilmu-ilmu modern menjadi sedemikian penting perananya sebagai alat bantu baca, seperti ilmu fonologi, semiotika, simantik, logika dan filsafat, psikologi, sosiologi, sejarah, antropologi, ilmu politik, dll. Sebagaimana diketahui, fonologi merupakan ilmu yang membahas bunyi (pada kata) dan perubahannya, yang dengan perubahan itu, pada akhirnya diketahui, berakibat pada perubahan makna. Ilmu semiotika adalah ilmu yang berbicara tetang sistem tanda, sehingga ada signified (petanda) dan signifier (penanda). Tanda, dengan demikian, adalah kesatuan dari suatu bentuk penanda (signifier) dengan sebuah ide atau petanda (signified). Sehingga makna kata, umpamanya, bukan ada pada untaian huruf-hurufnya, tetapi pada apa yang ditunjuk atau ditandai oleh kata itu. Dan, fakta menunjukkan bahwa problem signified(petanda) dan signifier (penanda) itu bukan hanya pada wilayah bahasa saja tetapi juga pada kehidupan sosial dan budaya pada umumnya, sehingga semiotika juga menjadi wiayah kajian ilmu antropologi yang sangat menarik. Ilmu simantik bicara sistem struktur, awalnya memang struktur kata dan kalimat, tetapi berkembang ke struktur sosial dan budaya juga. Konsep kuncinya berkisar antara parole dan langueParole adalah kata, kalimat atau gaya (hidup) yang bersifat personal, yang dibuat secara sembarangan (arbitrary) sehingga terkesan asing, aneh, atau lucu bagi orang lain. Sementara langueadalah kata, kalimat atau gaya hidup yang sudah terstruktur dalam kesadaran masyarakat pada umumnya, sehingga sudah dimengerti maksudnya, posisinya, dan eksistesinya.

Logika dan filsafat sudah tentu untuk mengetahui kedalam pemikiran yang dikandung dalam bahasa dan budaya tertentu. Psikologi untuk melihat situasi kejiawaan baik personal maupun sosial. Sedangkan ilmu sosiologi, sejarah, antropologi, dan ilmu politik, kesemuanya untuk melihat fakta dan peristiwa benar-benar sebagai human and sosial construction, yang sifatnya historis, sehingga ada dinamika, ada tarik ulur, ada continuity and change, ada kepentingan, ada tradisi, dan ada faham dan ideologi, dan lain sebagainya.

Beberapa ilmu tersebut, untuk menyebut beberapa di ataranya, sudah tentu merupakan disiplin ilmu modern yang relatif baru, dan saat ini juga telah berkembang sedemikian rupa dengan temuan teori-teori yang baru. Meski demikian tidak bisa dikatakan, penggunaan ilmu-ilmu ini sebagai perspektif dalam membaca khasanah Islam klasik sebagai satu bentuk infiltrasi. Sehingga penggunaan sosiologi hukum sebagai bagian dari perangkat istinbath hukum bukanlah pemaksaan. Sosiologi hukum memang satu disiplin ilmu baru, namun nalar sosiologis sudah diletakkan dasar-dasarnya oleh para ulama dan para fuqaha. Demikian juga ilmu-ilmu yang lain tadi. Jika para ulama dan para fuqaha tampak seperti tidak menggunakan nalar sosiologi, itu bukan berarti mereka benar-benar tidak ada kepekaan sosiologis dalam melahirkan produk hukumnya, tetapi, dari perspektif pembacaan kontemporer, sekali lagi, karena pembaca, kita, tidak memiliki sensitivitas dantaste sosiologis.

Penggunaan ilmu-ilmu modern dengan segala teori temuannya untuk memperkaya perspektif seperti itu, jelas merupakan ciri utama dari model pembacaan kontemporer yang berbeda dengan model pembacaan tradisional yang umumnya steril dari ilmu-ilmu tersebut.[MM]

Iklan

About labarasi

Guru Matematika

Posted on Juni 10, 2011, in Filsafat. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Back Link

  • %d blogger menyukai ini: