Menjadi Raja atau Bidak!!

Hidup adalah ibarat permainan catur, demikian para inspitor menggambarkannya. Ada yang menjadi Raja, ada yang menjadi Menteri, dan sebagian besar menjadi rakyat biasa (bidak). Rakyat biasa sebagai bidak tentu memiliki keterbatasan-keterbatasan. Namun sekian banyak rakyat biasa bisa menjadi kekuatan besar yang bisa digunakan untuk melumpuhkan lawan. Ada yang bisa merangsek naik hingga menduduki jabatan menteri, namun juga ada yang sengaja dikorbankan sebagai bagian dari strategi untuk memperdaya lawan. Semuanya bergantung kehendak pengendalinya.

Memang sangat dilematis menjadi bidak, tatkala terus dipromosikan hingga menjadi menteri, sang bidak tentu akan senang bukan kepalang. Namun tatkala sengaja dikorbankan dalam rangkaian sebuah strategi, maka sang Bidak mungkin akan menjadi murung dan hanya menjadi penonton di pinggir papan catur, apalagi jika strategi tersebut tenyata sudah terbaca lawan dan pengorbanan sang bidak menjadi sia-sia.

Namun apapun itu bentuknya, jika berkaca pada kekompakan tim, maka tidak seharusnya Sang Bidak menjadi murung tatkala sengaja dikorbankan ataupun menjadi jumawa tatkala terus dipromosikan. Semuanya harus tetap pada koridor permainan, tidak boleh ada kata frustasi yang bakal membawa petaka, tetap enjoy dengan posisi yang telah ditakdirkan, dan terus maju walau akhirnya harus dengan pengorbanan.

Sang Raja pun punya keterbatasan-keterbatasan. Sekian banyak aturan protokoler yang melekat padanya membuatnya seolah terkukung. Sekalipun ia bebas melangkah ke arah mana saja yang dia suka, namun dia hanya dizinkan untuk melangkah selangkah saja. Namun istimewanya, Sang Raja dilindungi oleh semua unsur, dia tidak pernah dikorbankan sebagaimana Sang Bidak. Bahkan kekalahan dan kemenangan tim ditentukan oleh mati dan tidaknya Sang Raja, sekalipun masih ada sekian banyak Sang Bidak yang berkeliaran.

Yang menjadi Raja tentu tidak sembarang. Dia harus memiliki “tubuh” yang paling besar dari yang lainnya. Sang Bidak boleh saja bercita-cita menjadi Menteri, tetapi jangan berharap untuk menjadi Raja. Sekalipun dia berusaha untuk memberikan jalan bagi musuh agar Raja terbunuh, dia tetap tidak bisa menjadi Raja, karena Raja musuhlah yang akan menguasainya

Sepintas, gambaran tersebut seolah-olah mewakili kehidupan kita (kata orang sih). Sekarang kita mau yang mana? Menjadi Raja atau Bidak!

After the game, The King and The Pawn go into the same box

Iklan

About labarasi

Guru Matematika

Posted on Agustus 11, 2011, in Filsafat and tagged , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. klo boleh pilih…aku jadi pengendalinya aja… 😀
    pengibaratan yang sippp brow..thanks maz..mank menjadi apapun ada enaknya…jg ada g enaknya..so.. pandi2 aja kita menempatkan diri..

  2. saya ingin menjadi yang terbaik dari diri saya Pak 🙂

  3. Saya tidak ingin menjadi salah satunya.
    Permainan itu tidak ada ujung pangkalnya. Sementara hidup ini akan segera berakhir dan lanjut ke kehidupan yang abadi. Jelas bukan suatu permainan.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Back Link

  • %d blogger menyukai ini: